Jadwal Kuliah Pengganti Dadakan dan Hak Atas Kota

Opini

Pernahkah anda diberitahu secara mendadak oleh dosen tentang jadwal kuliah yang diundur atau diganti secara sepihak? Saya pernah, bahkan sudah beberapa kali. Jika anda juga pernah, maka saya sarankan untuk membaca tulisan ini sampai habis. Dalam esai singkat ini, saya akan membahas perihal jadwal kuliah pengganti dan hak atas kota.

Singkat cerita, kemarin (beneran kemarin), saya dikagetkan oleh kabar dari teman saya di salah satu mata kuliah yang saya ikuti. Ya, saya mendapat kabar bahwa kelas saya diundur. Asalnya, jadwal kuliah saya adalah jam 14.00, namun karena satu dan lain hal, satu hari sebelumnya dosen mengabari bahwa kelas diundur menjadi jam 16.00. Sayangnya, setelah kabar itu, saat hari ‘H’ tiba-tiba dosen yang mengajar mengatakan lagi bahwa kelas diundur menjadi jam 16.35, padahal sebetulnya mata kuliah ini, jika melihat jadwal, seharusnya diselesaikan pada jam 16.30.

Ya, begitulah fenomena yang terjadi kemarin. Mungkin anda saat membaca tulisan ini bertanya: “Terus apa sih hubungannya jadwal kuliah pengganti dengan hak atas kota?”.

“The right to the city is not merely a right of access to what already exists, but a right to change it after our heart’s desire” - Harvey, 2008
Menurut Harvey (2008), hak atas kota bukan hanya hak untuk mengakses sumber daya yang sudah ada, melainkan juga hak untuk mengubah dan mentransformasikan hal-hal yang ada di kota sesuai dengan kebutuhan kita. Ya, dan hak ini adalah hak kolektif seluruh warga kota. Lalu kaitannya dengan kelas di perkuliahan? Nah, jika kelas kita dan perkuliahan diibaratkan sebagai sebuah ‘kota’, maka kita tentu berhak untuk mengubah dan mentransformasikan hal-hal yang ada di kelas dan perkuliahan.

Jika kita kaitkan dengan kasus awal, yakni jadwal kuliah pengganti. Dosen sudah seharusnya memberikan mahasiswa jadwal yang fix dan tidak menganggu mahasiswa. Memang hak kita mendapatkan hal-hal itu, karena kebutuhan mahasiswa adalah untuk belajar dan hak kita untuk mendapat pengajaran. Akan tetapi, selain hak tersebut, dosen juga seharusnya memberikan “hak atas kota” pada mahasiswa. Hak atas kota dalam konteks perkuliahan ini, sesuai dengan definisi yang ditulis di atas, yang berarti hak terhadap perkuliahan sebagai sesuatu yang nyata, untuk kemudian mentransformasikan dan memperbaharui kuliah tersebut sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Artinya, mahasiswa di sini bukan saja punya hak untuk diberikan pengajaran, jadwal yang fix, sekaligus info dari dosen jika beliau tidak hadir. Mengacu pada definisi hak atas kota di paragraf kedua, maka hak atas kota bukan hanya hak untuk mengakses hal yang sudah ada (re: jadwal fix, diberikan pengajaran, dsb.), namun mahasiswa juga memiliki hak untuk mentransformasikan dan memperbaharui semua hal yang terjadi perkuliahan tersebut. Intinya, mahasiswa yang berkuliah bukan hanya pelaku pasif dari perubahan yang terjadi dalam perkuliahan, namun juga aktif terlibat dalam proses perubahan yang terjadi (LBH Jakarta, 2017). Dengan demikian, titik tolak dari hak atas kota dalam konteks ini adalah partisipasi mahasiswa terhadap perubahan yang terjadi di perkuliahan. Masalahnya, sekarang sudah sejauh mana sih kita berpartisipasi terhadap perubahan yang kita rasakan di kelas?

Oleh karena itu, ketika perubahan jadwal dan jadwal pengganti dari dosen hanyalah berdasarkan keputusan sepihak, maka dosen yang bersangkutan dalam konteks ini telah melanggar “hak atas kota” kita sebagai mahasiswa. Mengapa? Karena mahasiswa di sini hanya menjadi objek yang pasif dari perubahan, bahkan kita tidak diberi kesempatan untuk mentransformasi dan memperbaharui perubahan yang terjadi di kelas, yakni jadwal kelas pengganti itu sendiri.

Pada dasarnya, memang hak kita untuk menggunakan atau tidak menggunakan hak atas kota ini. Hak kita juga, untuk berpartisipasi atau tidak berpartisipasi. Namun, ketika kebijakan jadwal kuliah pengganti sepihak ini sudah menimbulkan kerugian, tentu merupakan hak kita juga untuk dapat mengkritik, mengevaluasi, dan mengubah kebijakan tersebut.

Mungkin saat ini anda sedang berpikiran bahwa masalah ini adalah masalah sepele. Beberapa dari anda mungkin akan bertanya: “Ngapain sih diribetin? Toh hanya perihal absen, kan? Secara rasional, dosen pun tentu menentukan jadwal pengganti saat kita sedang tidak bentrok dengan kelas lain, kan?” Betul sih, masalah ini sepele, namun hak atas kota ini perlu kita sadari dari masalah yang sepele, supaya kita bisa mengerti tentang substansi hak atas kota ini di masalah yang besar dan memengaruhi hajat orang banyak.

Coba bayangkan jika hak atas kota yang dilanggar adalah terkait hal yang substansial bagi kehidupan, seperti sandang, pangan, atau papan. Contoh paling sederhananya adalah seperti  penggusuran rumah secara sepihak, pembangunan yang merugikan rakyat kecil, dan banyak lagi. Tentu masalah-masalah seperti ini perlu kita perhatikan.

Dalam konteks lain, bila dikaitkan dengan kehidupan mahasiswa, coba kita lihat kebijakan dari pihak fakultas. Beberapa waktu lalu, di fakultas saya, pihak dekanat sempat memberikan kebijakan mendadak terkait renovasi kantin. Padahal, mahasiswa sering menggunakan kantin tersebut untuk melakukan aktivitasnya. Kalau kita menilik hak kita atas kota, maka seharusnya kebijakan itu tidak dilakukan secara sepihak. Ketika kebijakan dilakukan secara sepihak, maka perlu ditanyakan pada diri kita sendiri, sebetulnya di mana sih ‘hak atas kota’ kita? Apakah kita diberikan hak untuk itu oleh fakultas?

Nah, hak itu harus kita sadari juga sebagai mahasiswa. Setelah ditelisik, jangan-jangan ternyata sekarang kita sudah diberikan hak-hak tersebut oleh pihak dekanat, namun tidak kita gunakan. Sebagai contoh, sekarang fakultas saya memberikan hak untuk mengubah dan mentransformasikan kondisi kota kita (baca: Fakultas) dalam bentuk survei fasilitas serta kepuasan terhadap karyawan lewat SIAK (web sistem akademik), atau penyampaian aspirasi lewat Dept. Adkesma (Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa) BEM.

Jika ingin dilihat dari aspek lain lagi, kita bisa lihat sistem kegiatan kemahasiswaan. Setiap lembaga mahasiswa pasti punya program kerja, pertanyaannya, apakah kita diberikan hak untuk mengkritik, mengevaluasi, dan mengubah program kerja yang dijalankan oleh lembaga kemahasiswaan (re: BEM, DPM, dsb.)? Apakah kita ikut andil dalam penyikapan yang dilakukan lembaga tersebut? Jika belum, maka sebetulnya kita sebagai civitas, secara khusus sebagai mahasiswa berhak untuk mentransformasikan dan mengubah hal yang ada dalam lembaga tersebut. Hal ini dikarenakan lembaga mahasiswa merupakan bagian substansial dari ‘kota’ kita.

Hak atas kota ini pun seharusnya bukan saja disadari oleh stakeholder/pemegang jabatan seperti dosen, Ketua BEM, Ketua DPM, Kepala Departemen, pihak Dekanat, dsb., namun juga harus disadari oleh seluruh mahasiswa itu sendiri sebagai subjek dari perubahan yang terjadi. Saya beberapa kali melihat ketidaksadaran ini pada mahasiswa. Ketika ada mahasiswa yang mengkritik kebijakan yang dibuat oleh fakultas atau mengkritik proker yang diajukan oleh lembaga mahasiswa, tidak jarang kita mendengar perkataan bahwa: “Ah, itu mah bukan urusan lo, bukan urusan kita, kita kan cuman civitas biasa, itu mah urusan X!”, “Ah, nanti itu mah Y yang ngatur, kan mereka yang tanggung jawab, lo gak usah ikut campur lah!”, “Lah, lo jangan ngekritik dan terlalu berperan dalam proker X!”, atau “Kritik lo gak ngaruh coy, orang yang berkuasa kan X, Y, Z”.

Mindset ini menurut saya perlu diubah, sebab hak atas kota tentu adalah hak kita semua. Tidak peduli apa jabatan, peran maupun andil kita. Ketika kita adalah warga ‘kota’, maka kita berhak untuk mengkritik, mengevaluasi, dan mengubah, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap semua hal yang terjadi di ‘kota’ kita. Ini pun berlaku dalam setting perkuliahan.

Ya, mungkin ini adalah hal simpel. Namun, mindset ini perlu kita tanamkan pada diri kita. Mindset bahwa kita memiliki hak atas kota dalam seluruh setting apapun yang kita jalani. Selalu ingat saja bahwa kota, dan segala hal yang ada di dalamnya, tentu akan dapat mengubah diri kita. Jika dilihat dari konteks perkuliahan, tentu cara mengajar dosen, jadwal kuliah, dan tugas-tugas dapat mengubah perilaku kita sebagai manusia. Begitu pun dalam konteks kegiatan kemahasiswaan, sudah jelas bahwa proker seperti Ospek, Acara, dan banyak lagi, meskipun ada dari proker tersebut yang tidak terafiliasi dengan kita secara langsung, tetap saja proker tersebut dapat mengubah diri kita. Jika begitu, maka dapat disimpulkan bahwa kita sebagai warga kota terpengaruh oleh semua hal-hal yang ada dan terjadi di kota kita.

Oleh karena itu, dalam hal ini kita, sebagai manusia tentu berhak untuk mengubah diri kita, dengan cara mengubah kota kita (Harvey, 2008). Ya, ini adalah hak paling mendasar dan paling sederhana, yaitu hak untuk mengubah diri kita sendiri. Sayangnya, hak ini seringkali diabaikan oleh para stakeholder/pemegang jabatan, atau bahkan secara tidak disadari, oleh diri kita sendiri.

Daftar pustaka


Harvey, D. (2008). The right to the city. The City Reader6, 23-40.

LBH Jakarta. (2017). #JakartaKritis: Demokrasi yang jernih dan haka tas kota. Diakses pada tanggal 21 April 2017 dari http://www.bantuanhukum.or.id/web/jakartakritis-demokrasi-yang-jernih-dan-hak-atas-kota/

Cara Agar Menjadi Lebih Produktif #1: Hukum Produksi & Konsumsi

Personal Development

Masalah produktivitas adalah masalah yang dialami oleh semua kalangan, mulai dari kamu yang sekarang mungkin masih SMA, sampai dengan orang yang sudah kuliah ataupun bekerja. Ketika dihadapkan dengan tujuan atau deadline seperti tugas akademik atau organisasi, seringkali kita tidak melaksanakannya atau menunda-nunda. Ini menyebabkan kita pada akhirnya tidak mencapai tujuan awal kita.

Perlu kita tahu juga bahwa masalah produktivitas juga menjadi masalah besar negara Indonesia. Indeks produktivitas negara Indonesia menurut Asian Productivity Organization (2015) masih berada di bawah Malaysia, Thailand, dan bahkan Sri Lanka. Ini berarti tingkat produktivitas tenaga kerja negara Indonesia masih berada di bawah rata-rata di Asia. Itu baru Asia, belum berbicara tentang indeks produktivitas Indonesia di dunia.

Sebetulnya, pemerintah kita sudah aware akan masalah ini sejak tahun 2004, yaitu ketika pertama kali negara kita dipimpin oleh bapak SBY. Dari sana, pemerintah akhirnya membentuk BPPTK (Balai Pengembangan Produktivitas Tenaga Kerja) untuk menyelesaikan masalah produktivitas tenaga kerja di Indonesia. Meskipun produktivitas kita makin lama makin meningkat, sayangnya kinerja lembaga tersebut kurang begitu terlihat.

Pemerintah tentu tidak dapat menyelesaikan masalah produktivitas ini sendiri. Nah, karena urgensi tersebut, kali ini saya akan menulis rangkaian artikel tentang cara agar kita bisa lebih produktif. Ya, setidaknya supaya saya dapat membantu pemerintah mengubah paradigma kita sebagai orang Indonesia menjadi lebih baik perihal masalah produktivitas.

Rangkaian artikel yang saya buat ini akan berisi beberapa materi tentang produktivitas. Artikel ini adalah artikel yang pertama, yaitu terkait paradigma produksi & konsumsi. Well, tidak perlu basa-basi lagi, selamat membaca! Semoga bermanfaat!


Hukum 'Produksi & Konsumsi'


Sebelum kita membahas lebih jauh tentang bagaimana cara agar menjadi produktif. Ada pertanyaan yang harus kamu jawab terlebih dahulu. Ya, sebetulnya kamu tahu gak sih apa yang dimaksud dengan 'produktif'? 

"Produktif itu apa, sih?"
produktif/pro·duk·tif/ a 1 bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar). 
Jika melihat definisinya, pada dasarnya produktif adalah ketika kita mampu 'menghasilkan sesuatu' dalam jumlah besar. Atau kata lainnya adalah ketika kita mampu mem-PRODUKSI sesuatu dalam jumlah banyak. Ya, saat kita mampu memproduksi sesuatu hal atau karya, seperti misalnya lagu, tulisan, dan sebagainya dalam jumlah besar, maka barulah kita dapat dikatakan sebagai orang yang produktif.

Lalu, bagaimana cara supaya kita dapat menjadi produktif? Simpel, tentunya dengan mem-produksi sesuatu sebanyak-banyaknya. Seperti banyak menulis, menggambar, membuat lagu, atau apapun karya yang ingin kita produksi.

Meskipun begitu, memproduksi banyak sesuatu belum tentu membuat kita menjadi produsen yang berkualitas. Ya, semua orang bisa memproduksi banyak karya. Sehingga hal pertama yang harus menjadi pertanyaan bagi kita semua adalah: Sudah berkualitas belum karya yang kita produksi? 

Tentu, menjadi produktif itu baik. Namun jangan lupa bahwa kita juga harus memikirkan kualitas karya yang kita produksi. Maka, sebelum kita membahas bagaimana cara agar menjadi produktif, pertama-tama kita seharusnya berfokus dulu pada hasil produksi kita.

Menghasilkan banyak karya tidak akan bernilai apa-apa jika karya-karya tersebut tidak bermakna atau tidak bermanfaat. Kita perlu memproduksi hal yang berkualitas. Akan lebih baik jika menghasilkan satu karya yang sangat bagus, bukan? daripada menghasilkan banyak karya yang tidak bermakna? Oleh karena itu, pertanyaan yang harus dijawab oleh kita semua kali ini adalah:

Bagaimana cara agar 'produksi' karya kita bisa berkualitas?
 Jawabannya (lagi-lagi) sangatlah simpel.

Produksi yang berkualitas hanya akan muncul ketika kita melakukan konsumsi yang berkualitas. 
Misalnya, kamu ingin menjadi fotografer handal. Maka, hal yang harus kamu lakukan adalah dengan memfollow sebanyak-banyaknya fotografer terbaik dalam feed instagram-mu, dan unfollow orang dengan foto yang abal-abal. Mengapa? Sebab dengan mengonsumsi feed foto yang berkualitas, lama kelamaan secara tidak langsung kamu akan dapat mengidentifikasi mana foto yang berkualitas dan mana yang tidak. Ini akan berpengaruh pada foto yang langsung kamu ambil di 'lapangan'.

Sama juga halnya dengan contoh lain, misalnya menulis. Untuk dapat menulis dengan baik, kita harus banyak membaca tulisan-tulisan orang yang jago menulis. Sekaligus mengurangi konsumsi hal lain yang kurang berkaitan dengan menulis. Ya, selalu ingatlah bahwa produksi yang baik dihasilkan dari konsumsi yang baik. Perkembangan diri dimulai dari mengonsumsi hal yang berkualitas dan selaras dengan hal yang ingin kita kembangkan!

Coba lihat teman kamu yang hebat dalam melakukan hal tertentu. Misalnya main gitar, sesekali saat bertemu coba kamu tanyakan kegiatan kesehariannya. Saya yakin kegiatannya tidak akan jauh dari mendengarkan musik atau latihan bermain gitar. Musik yang dikonsumsi oleh orang tersebut pun pasti berbeda daripada musik 'mainstream' yang didengar oleh kebanyakan orang. Ya, pasti berbeda dan lebih berkualitas!

Contoh lainnya adalah orang yang jago fotografi. Coba deh cek following instagram mereka. Saya yakin mereka banyak memfollow orang yang jago dalam fotografi dan memiliki foto berkualitas.

Oleh karena itu, jika kamu merasa stuck (tidak berkembang) dalam hidupmu sekarang, coba cek lagi hal yang kamu lakukan setiap hari. Ya, setiap hari kamu mengonsumsi apa sih? (nonton televisi? youtube? facebookan? instagram? baca koran?) Setelah itu tanyakan kembali pada dirimu, apakah hal-hal tersebut adalah hal yang seharusnya kamu konsumsi? Apakah konsumsi tersebut masih belum selaras dengan tujuan/skill yang ingin kamu capai/tingkatkan? Atau ternyata sudah selaras, tapi konsumsinya masih belum berkualitas?

Lagi-lagi, yang tahu sudah seberapa baik konsumsimu dalam hidup hanya kamu, karena kamu sendiri lah berperan sebagai 'konsumen'. Bukan teman, guru, atau bahkan orang tuamu! Dan satu-satunya orang yang dapat mengontrol konsumsi tersebut adalah kamu sebagai konsumen itu sendiri!


Oleh karena itu, hal pertama yang harus kamu lakukan untuk menjadi produktif adalah dengan menguasai cara produksi karya yang berkualitas. Bagaimana caranya?

1. Mengatur konsumsimu setiap hari. Sadarlah dengan hal yang kamu lakukan setiap hari.
Coba tanyakan pada dirimu sendiri. "Hari ini, gue udah konsumsi apa aja ya? Apa konsumsi yang harus gue tambah? Apa yang harus gue kurangi?"

2. Selaraskan 'konsumsi'-mu sehari-hari dengan 'produksi'-mu. Maksudnya selaraskan di sini adalah menyamakan hal yang kamu konsumsi dengan hal yang ingin kamu produksi. Misal kamu ingin jago menulis, ya konsumsi kamu sehari-harinya harus dipenuhi dengan membaca tulisan.

3. Konsumsi hal yang berkualitas. Tinggalkan konsumsi yang abal-abal. Tingkatkan konsumsi yang berkualitas.

Well, begitulah seri pertama dari rangkaian artikel produktivitas! Tunggu seri selanjutnya, ya!

Keep your ‘goals’ to yourself

Personal Development
24 Oktober 2016


Terinspirasi oleh Sasa.

Tulisan ini dibuat beberapa hari sebelum alm. Sasa (mentor Zenius dan juga Ketua KAMABA Fakultas Psikologi UI 2015) meninggal.

Btw, semoga lo tenang di ‘sana’ yak teman pastafarian seperjuangan!

Tulisan ini akan saya mulai dengan satu buah pertanyaan.

“Pernahkah anda melihat teman, saudara, atau keluarga anda mengumbar mimpi, cita-cita, atau tujuan jangka panjang mereka di media sosial?”


Jika iya, selamat! Berarti anda bernasib sama dengan saya. Saya sarankan untuk melanjutkan membaca tulisan ini sampai habis.

Ya, tempo hari entah kenapa timeline media sosial saya jadi sering sekali terlihat orang-orang mengobral dan mengumbar mimpinya. Banyak orang yang menulis mimpi dan cita-cita mereka, lalu mereka hias dan desain dengan baik (dalam bentuk video atau gambar), dan akhirnya mereka share ke media sosial. Mimpi tersebut ditulis dan dishare dengan harapan bahwa setelah dishare, mimpi, cita-cita, atau tujuan yang mereka tulis tersebut akan terwujud.

Reaksi pertama saya setelah melihat fenomena tersebut adalah mengernyitkan dahi saya. Saya hanya punya dua pertanyaan saat itu:
Pertama:
“Kenapa sih mereka bisa berpikir seperti itu (bahwa menulis dan mempublikasikan mimpi di media sosial akan meningkatkan chance mimpi tersebut terwujud)?”

Kedua:
“Apakah betul efek menulis dan mempublikasikan mimpi di sosmed memang manjur?”

Langsung saja ke jawaban pertanyaan pertama. Menurut saya, asumsi tersebut muncul karena dua sebab utama:

  1. Anggapan bahwa saat menuliskan mimpi, cita-cita, atau tujuan jangka panjang, artinya kita sudah berjanji pada semua orang bahwa kita akan mengejar mimpi tersebut. Sehingga secara sadar ataupun tidak sadar, performa diri kita sehari-hari akan mengarah pada mimpi tersebut dan pada akhirnya mimpi kita akan terwujud
  1. Anggapan bahwa menuliskan mimpi secara konkret akan meningkatkan performa kita dalam mengejar mimpi tersebut.

Oke, pertanyaan pertama terjawab, pertanyaan selanjutnya adalah:

“Apakah betul efek menulis dan mempublikasikan mimpi di sosmed memang manjur?”

Pertama-tama, perlu saya klarifikasi bahwa menuliskan mimpi, cita-cita, atau tujuan secara konkret, apalagi dengan metode goal setting yang keren (contohnya seperti S.M.A.R.T atau G.R.O.W, silahkan anda cari jika penasaran) memang akan meningkatkan performa, dan ini telah terbukti oleh banyak penelitian tentang goal setting.

Namun, apakah mempublikasikan mimpi tersebut ke banyak orang akan menghasilkan efek yang sama (yaitu, meningkatkan performa)? Well, memang sudah sangat jelas sekali bahwa ‘menulis’ dan ‘mempublikasikan’ adalah dua kata kerja yang berbeda. Sehingga masih belum bisa saya identifikasi efeknya.

Lalu dari segala kebingungan dan pertanyaan terkait hal tersebut, tiba-tiba munculah ‘wahyu’ dari google berupa sebuah penelitian yang membantah adanya efek mempublikasikan mimpi akan meningkatkan performa. Penelitian tersebut adalah penelitian milik Derek Siver. Berikut prosedur penelitiannya yang saya kutip dari tulisan Sasa di Blog Zenius.

“Jadi, ada sebuah penelitian di mana 163 orang diminta untuk menjalani tes yang terpisah. Setiap orang diminta untuk menuliskan tujuan pribadi mereka di sebuah kertas. Setelah itu, peneliti meminta sebagian dari orang-orang tersebut untuk mengutarakan tujuan mereka (sampel A), dan sebagian lagi gak ngasih tau tujuan mereka (sampel B). Habis itu, mereka dikasi waktu selama 45 menit untuk ngerjain pekerjaan yang relevan sama tujuan pribadi mereka (misalnya kalo tujuan mereka mau menurunkan berat badan, mereka disuruh olahraga naik sepeda statis).

Dalam proses itu, mereka dikasi tau kalau misalnya mereka bisa berenti kapanpun mereka mau. Orang-orang yang ngasi tau tujuan pribadi mereka rata-rata berhenti di menit ke-33, sementara orang-orang yang ga ngasih tau tujuan mereka, ngehabisin  rata-rata 45 menit!
Menariknya lagi, ketika sampel A ditanya gimana rasanya setelah melakukan kegiatan itu, mereka bilang kalau mereka merasa sudah cukup dan sudah deket dalam mencapai tujuan mereka. Sebaliknya, ketika sampel B ditanya setelah kegiatannya selesai, mereka bilang kalau mereka ngerasa bahwa mereka masih jauuuh banget dari tujuan mereka.
Kenapa bisa gitu? Ternyata orang-orang yang ngasih tau tujuan mereka ke orang lain itu ngerasa mendapatkan pengakuan sosial dari lingkungan mereka. Penelitian-penelitian psikologis terkait hal ini ngebuktiin bahwa semakin lo ngasi tau tujuan-tujuan lo kepada orang lain, semakin kecil juga kegigihan lo untuk mewujudkan hal tersebut karena lo merasa sudah mendapatkan apa yang lo inginkan (which is pengakuan sosial). dalam proses usaha yang sebetulnya belum seberapa.” (Wibowo, 2015)

Setelah tahu penelitian ini, tentu kesimpulan akhir pertanyaan kedua yang saya ajukan adalah bahwa justru menceritakan mimpi kita ke orang lain adalah hal buruk. Sehingga, dari kesimpulan tersebut, konsekuensinya tentu adalah untuk diam. Sayangnya, justru setelah menemukan kesimpulan tersebut, pertanyaan di kepala saya malah jadi semakin bertambah.

“Lho, kalau begitu, mengapa banyak penelitian yang mengatakan sharing goals itu efeknya manjur? Mengapa ada saja segelintir orang yang tetap sukses meskipun mereka memberi tahu goals mereka di media sosial? Apakah mereka outliers (data ekstrim/segelintir pengecualian)?”

Berpikir keras

Setelah beberapa klik mencari di google, saya akhirnya menemukan beberapa limitasi simpulan di atas:

Ternyata, kita boleh saja mempublikasikan goals kita.

Akan tetapi, kita harus akuntabel/bertanggung jawab atas goals tersebut.

Kata kunci = Akuntabilitas

Tentu mengatakan mimpi besar seperti “Aku mau jadi presiden” atau “Aku mau menyembuhkan kanker” bukanlah goals yang akuntabel. Ya, contoh goals lainnya yang tidak akuntabel adalah seperti mimpi, cita-cita, atau tujuan hidup jangka panjang. Mengapa tidak akuntabel? Sebab goals tersebut terlalu jauh dan tidak bisa kita kontrol.

Goals macam inilah yang harus kita hindari untuk share di media sosial. Goals yang boleh kita share di media sosial tentunya hanyalah goals yang smart! Ya, literally S.M.A.R.T! Spesifik, Measurable, Attainable, Realistic, dan Time Bound. Tentunya mimpi besar atau tujuan jangka panjang tidak termasuk dalam kategori goals yang smart.

Sehingga kesimpulan akhir untuk fenomena yang saya bahas di artikel ini adalah:

  1. Shut up and keep your DREAMS to yourself
  2. Secara berkala, buatlah goal yang S.M.A.R.T untuk mewujudkan ‘DREAM’ tersebut. Dan goal smart tersebut tentunya bisa anda share di media sosial jika anda mau

Cheers!

Referensi:


1. Morisano, D., Hirsh, J. B., Peterson, J. B., Pihl, R. O., & Shore, B. M. (2010). Setting, elaborating, and reflecting on personal goals improves academic performance. Journal of Applied Psychology, 95(2), 255.)

2. Blog Zenius SMART-Sasa.

3. Ted Talk: Derek Siver

4. http://www.colipera.com/csi-ted-talks-what-derek-sivers-was-really-saying/

Kenapa Gue Unfollow dan Block 95% dari Temen Gue di Media Sosial

Personal Development

Setahun lebih menjalani hidup di luar kampung halaman sedikit-banyak mengubah cara gue memandang dunia. Apalagi dengan fakta bahwa gue meninggalkan kampung demi mempelajari ilmu yang super-duper keren tentang perilaku manusia, yo, Psikologi! 

Ilmu yang gue pelajari tersebut membuat gue buanyak banget menghabiskan waktu untuk menganalis diri, menganalisis perilaku orang lain dan merefleksi banyak kebiasaan yang sering gue lakukan. Nah, waktu yang gue habiskan untuk menganalisis diri tersebut pada akhirnya berpengaruh pada langkah ekstrim yang (sejujurnya) baru saja gue lakukan saat ini. Which is tentang social media. 

Ya, gue melakukan hal seperti berikut ini: 

Unfollow 97% orang yang gue follow di Instagram. 

Unfollow 80% orang yang gue follow di Twitter. 

Unfriend 70% orang di Facebook. 

Nge-remove ratusan orang di friendlist Line.

Kebanyakan orang pasti menganggap hal yang gue lakukan cukup aneh. Apalagi dengan fakta bahwa gue adalah orang yang sangat aktif di media sosial. Pertanyaan yang pertama kali ditanyakan temen gue ketika melakukan ini pastinya adalah:

NGAPAEN SIH VAN?!?!

So, di artikel ini, gue bakal ngebahas tentang alasan kenapa gue melakukan hal-hal "ekstrim" di atas. Sekaligus juga sebagai pernyataan sikap untuk temen gue yang tempo hari nanya tentang hal ini. Artikel ini juga berguna sebagai insight buat elo yang mungkin punya pengalaman yang sama dengan gue terhadap social media. Gue bakal ceritain pengalaman gue dari awal banget, supaya lo ngerti. Ok, let's begin!

Berawal dari nyuci baju.

Saat ngekost, gue punya kebiasaan yang mungkin agak berbeda daripada orang lain yang ngekost. Gue nyuci dan nyetrika sendiri. Ya, di tahun pertama kuliah, gue sama sekali gak pernah nyentuh laundry. Alasannya, karena gue merasa kurang olahraga (lol) dan nyuci baju membantu gue untuk tetap fit.

By E-One Photography
Tapi dari sana, gue mulai kewalahan. Kewalahan karena banyaknya aktivitas organisasi, kemahasiswaan, dan juga tugas akademis. Baju yang gue bawa lumayan banyak, alhasil, gue jarang menepati waktu nyuci mingguan, karena selalu ada cadangan baju. Kadang gue nyuci baju seminggu sekali, kadang dua minggu sekali, atau bahkan lebih dari tiga minggu baju kotornya gue biarin. 

Lalu, sedikit-sedikit gue mulai mikir: Ngapain ya gue bawa baju banyak-banyak? Toh baju yang sering gue pake yang itu-itu doang...

Nah, masalah yang awalnya hanya dari baju yang kebanyakan, jadi merembet ke barang-barang yang ada di kostan gue. Gue merasa gue terlalu banyak bawa perabot, barang, dan hal-hal yang tidak essential buat gue. Contohnya, gue kebanyakan bawa piring, gelas, magic-jar, dan stok makanan / minuman yang pada akhirnya gak gue makan, bahkan sampe kadaluarsa.

Dari sini, gue mulai mikir lebih jauh dan merefleksi diri. Ternyata, dalam setahun, gue cuma make 30% dari barang yang ada di kostan. Magic jar? Gak kepake, karena gue sibuk organisasi dan banyak tugas. Gue selalu makan di kantin fakultas atau warteg. Susu kaleng dan susu bubuk yang gue simpen? Hampir gak pernah gue minum, sampai-sampai setelah satu tahun pas gue mau minum, gue baru sadar bahwa susunya udah kadaluarsa. Perabotan yang gue bawa? Dari banyaknya piring, gelas, sapu, dan banyak hal lainnya, yang gue pake cuman 1 piring, 1 gelas, sapu dan lap untuk mengepel lantai. Sisanya sama sekali gak gue pake.

Lalu fakta tersebut mengundang pemikiran-pemikiran lain yang menggelitik dari benak gue. Selama ini, ternyata, banyak barang yang gak guna di kostan gue. Dan barang tersebut menimbulkan efek negatif, yaitu beban fisik dan mental. 

Karena barang yang gue bawa banyak banget, akhirnya space kamar gue jadi mengecil (makin sempit), beresin kamar lebih sulit, karena banyak spot yang ketutupin barang, dan gue juga harus nyuci baju dan nyetrika lebih banyak.

Barusan itu beban fisik, beban mental? Kamar yang sempit cenderung ngebuat gue lebih stress, barang yang tidak tersusun rapi pun membuat gue selalu kepikiran untuk ngebersihin kamar. Padahal ada tugas yang lebih penting untuk dikerjakan daripada membersihkan kamar terus menerus.

Nah, gue pun akhirnya merencanakan untuk melakukan sesuatu, yaitu mereduksi barang-barang yang ada di kostan gue. Jadi cuma barang yang sangat essential aja yang boleh ada di kamar gue, barang yang gak gue butuhin harus gue buang atau gue sumbangin ke orang yang lebih membutuhkan.

Beresin kamar: The art of letting go.

Ada satu pelajaran dari pengalaman beresin kamar untuk mereduksi barang yang gak essential: It is hard. Very hard.
Gue berulang kali nemu barang yang punya 'history' sama gue. Misalnya, vape / rokok elektrik yang gue beli seharga 600rb pas SMA, yang mana dulu itu gue harus nabung selama sebulan lebih. Atau surat cinta jaman SD yang bener-bener membangkitkan kenangan manis. Ada juga buku novel pertama yang gue beli, Memoirs of a Geisha.

Semua barang di atas sebetulnya udah sama sekali gak pernah gue pake, dan bener-bener gak essential untuk kehidupan gue di sini. Tapi bener-bener sulit untuk ngebuang atau ngasihin barang tersebut ke orang lain. Meskipun begitu, demi kesehatan fisik dan mental gue, gue tetep harus berkomitmen dan membuang barang-barang tersebut. This is the hardest part, tapi gue percaya, harus ada langkah yang dilakukan untuk menghentikan kedzaliman ini.


Minimalist lifestyle

Nah, hal di atas yang baru saja gue lakukan adalah prinsip hidup minimalis, yaitu mengurangi hal-hal yang gak penting dalam hidup gue dan memperbanyak hal yang emang penting buat gue. Salah satu prinsip yang gue suka dalam gerakan minimalistik adalah bahwa barang sebetulnya gak terlalu penting, experience-lah yang sebetulnya penting
Ya, ternyata semakin banyak barang yang gue beli, gue bawa atau gue simpen, meskipun barang tersebut 'memorial', gue malah semakin gak bahagia. Momen saat gue membuang atau memberikan barang tersebut memang momen yang sulit, gue sadar itu. Tapi, momen tersebut membebaskan gue. Gue merasa bebas dan gue merasa lebih bahagia. 

Quotes yang paling pas untuk menyimpulkan minimalist lifestyle versi gue sih adalah quotesnya Ridwan Kamil:
"Orang bisa aja miskin tapi dia happy. Jadi happy bukan soal punya duit atau tidak punya duit, kita bisa happy dengan cara yang sederhana. Minum kopi 5000an di angkringan, lesehan di trotoar, ngumpul dan bercanda, sama happy-nya dengan ngumpul di cafe mahal." - Ridwan Kamil
Jadi bukan masalah banyaknya barang atau uang yang kita punya. Kebahagiaan itu yang penting adalah mindset dan experience-nya.

Minimalist lifestyle: Apa hubungannya dengan Social Media?

Kita bisa menghubungkan minimalist lifestyle bukan hanya dengan benda fisik, tapi juga dengan kehidupan sosial. Tentunya dengan menggunakan prinsip yang sama, yaitu mengurangi hal yang gak penting dan memperbanyak hal yang penting dan essential. Nah, apakah kamu harus unfollow temen-temen lo? Mungkin jawaban pertanyaannya bisa dimulai dengan menjawab beberapa pertanyaan reflektif berikut ini:

1. Apakah social media mendekatkan lo ke tujuan hidup / cita-cita lo?
2. Gimana dampak social media pada kehidupan lo? Baik atau buruk?
3. Apakah temen-temen yang lo follow atau yang ada dalam friendlist lo ngasih dampak baik buat lo, atau malah ngasih dampak buruk? Lo makin bahagia atau malah jadi sedih pas ngeliat postingan temen lo di social media?
4. Sebenernya, social media tuh essential gak sih? Friendlist atau following lo essential gak sih? Atau malah bikin lo ngebuang banyak waktu?

Alasan-alasan inilah yang membuat gue memutuskan mengambil langkah ekstrim, yaitu dengan menghapus ratusan orang yang menurut gue gak essential untuk gue follow atau gue jadiin friend di social media

Sebab, gue merasa ketika gue ngefollow banyak orang, ya gue jadi akan banyak ngestalk, comment, like, dan sebagainya. Padahal, aktivitas seperti follow, comment, stalk, dsb. itu sama sekali gak mendekatkan gue ke cita-cita atau tujuan gue. Namun sayangnya, aktivitas tersebut lah yang menghabiskan waktu gue setiap harinya.

Akhirnya, gue mengambil sikap. Ya, this had to stop. 


Setelah ngehapus....


Nah, setelah gue menghapus buanyak banget temen dan following. Apakah itu berpengaruh buruk? Ternyata nggak sama sekali! Justru gue malah jadi bisa nanya-nanya di real-life saat ketemu temen-temen yang gak gue follow.
Eh kegiatan lo ngapain minggu ini?Ceritain dong blablabla! Gue kan gak follow lo!
dan banyak hal lainnya yang justru malah membuat gue lebih dekat dengan orang-orang di sekitar gue secara personal. Dibandingkan dengan komentar secara online lewat social media.

Well, begitulah cerita kenapa gue memutuskan untuk unfollow dan block orang-orang di social media. Gue harap lo mendapat banyak insight dari pengalaman gue. 

Like dan share yak kalo lo merasa postingan ini berguna!

See ya next time!

Menanggapi Peraturan Berbasis Agama = “Religion vs. Secularism”

Opini

Kalau boleh berkata jujur, saya adalah orang yang sangat sekuler. Well, mungkin beberapa dari anda mengernyitkan dahi ketika mendengar kata ‘sekuler’. Menurut saya pribadi, sekarang kata tersebut sudah menjadi kata yang dianggap tabu (oleh sebagian orang) dan dianggap negatif oleh beberapa kaum agamis, karena mungkin dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

Padahal, definisi sekuler sebetulnya netral, biasa-biasa saja, tidak ada sisi negatifnya terhadap agama apapun. Definisi sekuler menurut saya simpelnya adalah pemisahan antara agama dan pemerintahan serta kehidupan bermasyarakat. Jadi, agama tidak usahlah menjadi bahan pertimbangan dalam pembagian kekuasaan, pemerintahan, dan lain-lain untuk mengatur masyarakat. Dalam hal ini, tentu saya sangat setuju, terutama jika diterapkan di Indonesia, kenapa?

Sebab, negara dan masyarakatlah yang seharusnya mengatur pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat negara tersebut, bukan aturan agama. Jika melihat kondisi negara Indonesia, tentu hal tersebut merupakan hal yang tepat, bukan? Karena Indonesia merupakan negara yang heterogen (beragam), bukan hanya agama Islam atau Kristen yang ada di Indonesia, tapi buanyak. Oleh karena itu tidak bolehlah itu si ‘hukum positif’ hanya berdasarkan kewajiban dari salah satu agama, sebab setahu saya, dalam agama tidak ada ajaran untuk “memaksa” orang menaati hukum agama (tolong koreksi saya jika salah). Jadi, ya sudah, agama dan pemerintahan dipisahkan saja, toh orang yang agamis masih bisa menjalankan perintah dan menjauhi larangannya, orang yang non-agamis bisa menghormati orang yang agamis #everybodywins.

Bayangkan saja hukum yang berasal dari salah satu agama tersebut harus ditaati oleh orang yang menganut agama lain yang tidak wajib menganutnya, sehingga aktivitasnya jadi terhambat. Kalau begitu, bukankah negara yang menyelenggarakan hukum tersebut menduakan rakyatnya? Rakyat yang tidak wajib mentaati menjadi terbebani dan terduakan (kasihan yah, sudah cukuplah sama pacar saja diduainnya). Kasarnya, menurut saya sebagian rakyat yang tidak wajib menjalankan peraturan tersebut seperti dianak-tirikan.

Namun, meskipun saya sangat mendukung sekulerisme, hal yang barusan saya katakan (dan garis bawahi) di atas menimbulkan beberapa pertanyaan (“negara dan masyarakatlah yang seharusnya mengatur pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat negara tersebut, bukan aturan agama”).

Lalu, bagaimana jika masyarakat Indonesia sendiri meminta peraturan di Indonesia berdasarkan salah satu agama? Bagaimana jika masyarakat di sebuah daerah di Indonesia meminta peraturan dari suatu agama dibuat menjadi peraturan daerah? Karena diminta, diaspirasikan, diinginkan oleh masyarakat di suatu daerah tersebut? Let’s say bahwa daerah tersebut adalah di Serang, Papua, atau Bali yang membuat perda berdasarkan salah satu agama.

Ea, bingung ugha kan?

Negara Indonesia bukanlah negara agama, namun bukan juga negara sekuler – Menteri Agama, 2015

Ya, menteri agama sendiri yang bilang bahwa Indonesia bukanlah negara agama maupun negara sekuler. Namun, pertanyaan yang harus dijawab menurut saya adalah: Ada gak sih batasan secara tertulis dan jelas tentang hal tersebut?

Mengapa hal tersebut mesti dijawab? Sebab sebuah dasar hukum yang multitafsir itu gak bagus! Lha iya, dasar hukum kok ambigu. Bayangkan jika kaum agamis menganggap batasannya adalah ‘A’ dan kaum sekuler menganggap batasannya adalah ‘B’. Ini jelas-jelas akan mudah menyulut perpecahan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini di media sosial tentang kasus warteg Ibu Saeni antara yang pro dan kontra perda yang ada di Serang. Ada yang bilang itu aspirasi masyarakat sono lah, ada yang bilang itu intoleran lah, dan sebagainya. Padahal, itu seperti debat kusir yang tidak akan ada habisnya, terutama tanpa batasan yang jelas dari negara. Simpelnya, pertanyaan yang harus dijawab oleh negara adalah: Sampai seberapa jauhkah tingkat kesekuleran dan keagamisan yang boleh ada di Indonesia?

Selain batasan yang jelas, hukum di Indonesia sebetulnya HARUS ADA KADALUARSANYA. Simply karena zaman dan situasi selalu berubah dan hukum itu dijalankan oleh orang yang masih hidup, bukan orang yang sudah mati. Sedikit OOT, saya seringkali gatel dengan orang yang teriak-teriak “bahaya laten kuminis” dan membubar-bubarkan diskusi intelektual yang membahas tentang kuminis. Diskusi publik yang membahas kuminis seakan-akan dianggap sebagai kebangkitan partei kumininis indon (bukan typo wkwk) yang mungkin sudah punah belasan tahun lalu dan tidak mungkin bangkit lagi di era ini (mungkin saja bangkit sih, van…… #OkeAbaikanAq), sehingga diskusi tersebut banyak dibubarkan, bahkan secara paksa. I mean, apakah hukum atau ketetapan itu masih harus berlaku di zaman globalisasi seperti ini? Zaman di mana seharusnya tidak ada batasan terhadap informasi dan pendidikan? Zaman di mana banyak orang dapat didoktrin dengan mudah dengan informasi palsu? Yang akhirnya akan membuat kuminis bangkit lagi karena doktrinisasi info palsu yang disebabkan oleh kurangnya diskusi intelektual tentang kuminis di masyarakat? #BahayaLatenKuminis #AbaikanLagi.

Intinya, hukum harus punya tanggal kadaluarsa, entah 15 atau 20 tahun sekali, supaya hukum-hukum yang irrelevan dengan zaman sekarang dibuang/direvisi dengan yang relevan, supaya kejadian kecacatan peraturan seperti bentrok supir taksi atau fenomena debat warteg Ibu Saeni tidak terjadi (lagi). Jangan sampai terulang lah.

Ya, saya punya dua tuntutan yang entah untuk siapa (mungkin untuk saya sendiri, elit politik atau generasi selanjutnya) dan ini juga mungkin sepertinya agak ngawur (karena saya tidak terlalu mengerti tentang hukum, baik secara umum maupun secara khusus di Indonesia, mohon maaf):

1. Membuat batasan yang jelas tentang pembuatan peraturan. Seberapa sekuler dan agamiskah dibolehkannya sebuah peraturan di Indonesia? Bagaimana proses pembuatan perda? Mengapa ada daerah tertentu yang dibuat peraturan daerah dengan landasan sebuah agama tertentu? Bagaimana prosesnya? Apakah itu betul-betul aspirasi penduduknya? (Aceh, Bali, Serang, Papua. Dsb). Agar tidak ada rakyat / penduduk yang dianak-tirikan.

2. Membuat batas kadaluarsa peraturan. Sekali lagi, karena yang menjalankan peraturan itu adalah orang yang hidup, bukan orang yang sudah lama mati. Zaman dulu belum ada taxi online, kuminis banyak merajalela, dan mungkin banyak fenomena lain, sehingga dibuatlah peraturan atau ketetapan ‘X’. Namun, apakah zaman sekarang harus mengikuti peraturan ‘X’ juga? Jelas tidak, harus ada yang diperbaharui.

This is the end tho. Sekali lagi, mohon maaf jika ada tulisan saya yang keliru tentang hukum atau apapun. Ini hanyalah keresahan saya tentang banyaknya konflik yang terjadi di Indonesia, dan menurut saya akar masalahnya adalah dua hal yang saya tuntut di atas. Ya, beritahu pendapat anda di kolom komen yak! Terima kasih telah membaca! Hidup sekuler! 

By the way, jika anda tertarik dengan pandangan saya tentang sekulerisme (yang saya tulis dulu saat masih jaman alay SMA wkwkwk), boleh cek tulisan saya yang dulu tentang sekulerisme di "Kenapa Agama Bikin Indonesia Gak Maju-maju" [Fyi: Meskipun banyak kekurangan di tulisan tersebut, it's still worth to read!]

Tersesat

Personal Development

Setiap hari, saya selalu berkata kepada diri saya sendiri agar tetap sadar. Supaya tidak tersesat. Tersesat dalam belenggu, tugas, dan hal yang seakan-akan penting, padahal tidak. Seburuk-buruknya manusia adalah manusia yang tersesat. Terjebak dalam dogma yang mengikat, sampai akhirnya hilanglah identitasnya sebagai manusia.

Pernah saya tersesat, dalam tugas-tugas yang tidak penting. Rasanya hidup sangat berat sekali. Lupa akan tujuan. Ah, bukan lupa, malah tidak pernah tahu akan tujuan yang sebetulnya penting. Terbebani jiwa dan raga.

Cara agar tidak tersesat adalah dengan mengetahui tujuan besar kehidupan. Dengan tetap sadar, sehingga dapat kebal terhadap perubahan dan dogma. Tahu mana yang penting dan tidak penting. Mengerti esensi dari setiap hal yang dikerjakan, ketika itulah kita sadar dan maju ke jalan yang tepat.

Lalu, apakah kau sedang tersesat sekarang? Coba tanyakan beberapa pertanyaan ini terhadap diri kamu sendiri:

1. Apakah sekarang saya sedang sadar? Atau sedang berkutat dengan kesibukan yang sepertinya tak ada hentinya?
Sebetulnya hal yang saya lakukan minggu lalu, kemarin, dan hari ini, apakah penting? Mengarah kepada apa sih semua hal yang saya lakukan ini? Apakah karena suruhan atau permintaan orang? Apakah karena semua orang melakukannya seperti itu?–sehingga saya ikut ikutan? Sadarkah saya? Di manakah saya sekarang ini?

2. Apa tujuan saya hidup?
Lalu sebetulnya apa tujuan saya hidup di dunia ini? Haruskah saya meneruskan apa yang sedang saya lakukan sekarang?

3. Jika esok hari saya mati, apakah saya sudah siap? Apakah saya berada dalam kehidupan yang saya inginkan sekarang?
Sudah siapkah saya? Apakah saya sedang berada di jalan yang tepat?

Sedang tersesatkah saya?

Jangan Khawatir, SBMPTN merupakan Proses Pendewasaan

Pendidikan

Dalam hidup, kita pasti akan dihadapkan dengan sebuah rintangan yang memaksa kita untuk memilih salah satu dan mengorbankan yang lain. Ya, sebagai manusia tentunya kita tidak dapat menjalani semuanya dengan ‘perfect’, itulah alasan kenapa kita harus memilih.

Jika ditanya keputusan apa yang paling menakutkan, paling berisiko, dan paling besar dalam hidup, jawaban saya adalah ketika saya membuang PTN yang sudah didapat di SNMPTN (jalur undangan) dan mencoba mempertaruhkan semuanya di SBMPTN (jalur tes).

Saat SMA, ketika orang lain sudah punya target hidup, terutama target PTN-nya masing-masing. Saya adalah satu-satunya orang yang mungkin saat itu tidak punya visi atau tujuan apapun ke depannya. Lalu saya membandingkan diri dengan orang lain sampai dengan merefleksi identitas diri. Saya sadar bahwa saat itu saya benar-benar ‘kabur’, tanpa tujuan dan krisis identitas.

Akhirnya saya melakukan pencarian identitas, dan menemukan banyak lembaga meskipun berbeda-beda dengan satu visi yang sama, yaitu perubahan yang lebih baik bagi dunia. Lembaga tersebut adalah Zenius, Hitman System, TED, dan banyak lagi. Semua itu, semua ide yang terkumpul sejak kecil akhirnya saya refleksikan, agar menjadi pembentuk diri saya yang sebenar-benarnya. Ya, membentuk idealisme yang saya cita-citakan.

Esensi hidup, belajar, dan identitas perlahan-lahan saya temukan. Perubahan sejak dalam pikiran pada akhirnya harus terimplementasikan dalam tindakan. Saya mencoba berubah di semester terakhir SMA. Pelajaran pertama yang didapat adalah: Perjuangan akan selalu membuahkan hasil. Ya, saya mendapat nilai UN tertinggi se-sekolah untuk jurusan IPS dan lulus SNMPTN di PTN pilihan pertama yang saya pilih.

Sayangnya, saat memilih PTN di SNMPTN, saya lebih memilih cari aman daripada mengejar PTN yang benar-benar saya inginkan. Ada dua pilihan saat itu. Untuk mengambil pilihan yang penuh risiko dan meninggalkan rezeki, atau tinggal di Bandung dan menerima apa yang ada. Keluarga saya bukanlah keluarga highclass yang uangnya unlimited, sehingga masuk ke PTN dengan jalur yang murah menjadi pilihan satu-satunya. Jika tidak masuk PTN, ya pupuslah harapan saya untuk kuliah.

Meskipun saat itu saya kebingungan, namun, saat kebingungan itulah yang membuat saya menjadi dewasa, untuk memilih jalan yang saya pilih sendiri tanpa terpengaruh oleh pendapat orang lain. Pada akhirnya, saya memilih untuk melepas SNMPTN, meskipun teman-teman, orang tua, dan guru mengatakan sebaliknya.

Tuhan pun mengabulkan pilihan dan perjuangan saya, saya masuk ke PTN yang saya inginkan. Ketahuilah bahwa tanpa keputusan besar dan berisiko itu, mungkin saya tidak akan berkembang menjadi lebih dewasa.

Dampaknya:

1. Saya mendirikan blog ini, dengan tujuan menginspirasi, mengenalkan, dan mengubah paradigma remaja menjadi lebih baik. Ya, blog ini mulai saya tulis ketika saya membuang pilihan SNMPTN tersebut. Sekarang blog ini sudah menginspirasi banyak remaja, dan setiap hari selalu bertambah viewersnya.

2. Banyaknya pengalaman, kesalahan, dan keblangsakan yang telah saya lakukan membuat saya lebih dewasa sampai akhirnya diamanahkan menjadi Ketua Angkatan IKM Fakultas Psikologi UI 2015.

3. Sedikit demi sedikit saya mulai membuat karya besar, menorehkan prestasi, dan penghargaan bersamaan dengan pilihan besar berisiko tersebut.

Hanya sekarang saya bisa melihat silver lining dari kebingungan, stres, dan kesenangan yang campur aduk saat memperjuangkan SBMPTN satu tahun yang lalu. Jika mengutip Steve Jobs, “....you can only connect the dots backward”. Betul kata beliau, hanya di akhirlah kita bisa melihat hal-hal yang kita lakukan terhubung menjadi prestasi, bukan di awal. Maka, sudah bukan alasan lagi untuk terikat pada dogma, perkataan orang tua, teman, guru, atau siapapun itu yang berkoar-koar di media. Sebab kedewasaan itu datang ketika kita memilih sesuatu berdasarkan refleksi dari diri kita sendiri, pilihan kita yang independen.

Saran saya kepada teman-teman yang sedang berjuang di jalur SBMPTN, mungkin bisa coba direnungkan kembali tujuan besar hidup teman-teman. Renungkan lagi esensi belajar selama ini. Renungkan lagi keputusan-keputusan yang kalian pilih. Tanyakan pada diri kalian sendiri, sudahkah saya berada di jalan yang tepat? (Baca tulisan saya, apakah anda sedang "tersesat" -> http://filosofiremaja.blogspot.co.id/2016/05/tersesat.html)


Akhir kata, cobalah untuk terbang, meskipun terikat. Saya yakin kalian akan menemukan kedewasaan itu dengan sendirinya. Jangan khawatir dengan hasil di masa depan, toh semua ini merupakan proses pendewasaan.